
Paskah tahun ini hadir di tengah kerinduan kolektif akan kedamaian yang substantif. Ia mengajak kita meninjau kembali relasi antarumat beragama, tidak hanya dalam bingkai toleransi pasif, tetapi dalam semangat rekonsiliasi sosial yang aktif. Di sinilah moderasi beragama menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan demi menguatkan keutuhan umat.
Dalam setiap ajaran agama, pengorbanan selalu menjadi pintu menuju kemuliaan. Paskah mengajarkan bahwa kebangkitan dan pemulihan memerlukan kerelaan untuk berkorban. Dalam kehidupan berbangsa, pengorbanan itu hadir dalam bentuk kesediaan menanggalkan ego sektoral, kefanatikan sempit, dan prasangka yang menghambat dialog.
Rekonsiliasi sosial bukan sekadar konsep, melainkan proses penyembuhan luka akibat perbedaan dan gesekan kepentingan. Momentum Paskah menjadi saat yang tepat untuk introspeksi: apakah kehadiran kita membawa kesejukan atau justru memperkeruh keadaan? Kesalehan sejati tidak diukur dari kerasnya membela kelompok, tetapi dari manfaat nyata bagi sesama manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Moderasi beragama bukanlah upaya mendangkalkan akidah atau mencampuradukkan ajaran. Ia merupakan jalan tengah (wasathiyah), yaitu sikap yang menempatkan keadilan dan keseimbangan sebagai dasar interaksi. Dalam konteks ini, kita diajak menghormati kekhusyukan ibadah orang lain tanpa kehilangan identitas keimanan sendiri.
Sebagai jalan rekonsiliasi, moderasi beragama menuntut sikap inklusif. Agama hadir untuk memuliakan manusia. Ketika kita menghormati siapa pun tanpa memandang latar belakang, sejatinya kita sedang memuliakan Sang Pencipta. Jika prinsip ini dijalankan, konflik yang mengatasnamakan agama dapat diminimalkan, dan rasa aman antarumat akan tumbuh secara alami.
Kita perlu menggeser orientasi dari kesalehan ritual menuju kesalehan sosial yang nyata. Ibadah tidak berhenti di tempat ibadah, tetapi harus memberi dampak di ruang publik. Nilai seseorang tercermin dari sejauh mana kehadirannya membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pemikiran filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, bahwa hidup harus memberi manfaat bagi orang lain, selaras dengan nilai-nilai agama. Keimanan menjadi bermakna ketika menghadirkan kedamaian bagi sesama. Perayaan hari besar keagamaan pun akan kehilangan makna jika masih disertai kebencian terhadap perbedaan.
Melalui momentum Paskah, seluruh elemen umat beragama diajak mempraktikkan moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Rekonsiliasi sosial dimulai dari hal sederhana: kebersamaan di ruang keluarga, gotong royong di lingkungan, hingga kerja sama lintas iman dalam membantu sesama yang membutuhkan.
Kerukunan yang kita nikmati hari ini merupakan warisan para pendahulu yang harus terus dirawat. Di Sulawesi Tengah, terdapat teladan dari Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufri) yang menunjukkan harmoni lintas iman melalui pendidikan dan interaksi sosial yang penuh keteladanan.
Menguatkan keutuhan umat beragama bertumpu pada tiga pilar utama: saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling menolong (ta’awun). Ketiga nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun empati, menghargai perbedaan, dan bekerja sama demi kebaikan bersama.
Paskah membawa pesan tentang harapan yang muncul setelah kegelapan. Momentum ini dapat menjadi awal baru bagi kerukunan di Indonesia. Moderasi beragama harus menjadi napas dalam setiap interaksi, sehingga kita mampu menjadi perekat, bukan pemisah; menjadi jembatan, bukan tembok, demi masa depan yang damai dan harmonis.

