
Tadulakonews.com – Gema takbir berkumandang syahdu di lapangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tebing Tinggi pada Sabtu pagi, menciptakan suasana religius yang begitu terasa sejak fajar menyingsing.
Suara takbir yang bersahut-sahutan mengiringi langkah ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan yang bersiap melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah dengan penuh kekhusyukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para warga binaan bersama jajaran petugas tampak berbaur dalam suasana kebersamaan, menandai momen hari raya yang tetap terasa hangat meski berada di balik tembok pemasyarakatan.
Kepala Lapas Kelas IIB Tebing Tinggi, Dede Mulyadi, hadir langsung di tengah-tengah warga binaan untuk mengikuti pelaksanaan ibadah tersebut.
Dengan mengenakan pakaian muslim yang rapi, ia didampingi oleh pejabat struktural dan staf, menunjukkan keterlibatan penuh dalam kegiatan keagamaan ini.
Kehadiran pimpinan di barisan saf yang sama dengan warga binaan bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kuat kebersamaan dan nilai kemanusiaan.
Hal ini mencerminkan bahwa pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada pendekatan emosional dan spiritual.
Suasana semakin khidmat saat pelaksanaan Salat Idul Fitri dimulai, diiringi ketenangan dan kekhusyukan seluruh jamaah.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Ustad Rudy Syahputra Damanik yang menyampaikan khutbah dengan penuh penghayatan.
Dalam khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungi makna kebebasan yang sesungguhnya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batiniah.
Pesan tersebut menyentuh hati para warga binaan, memberikan harapan serta dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Momentum Idul Fitri ini menjadi sarana refleksi diri bagi para penghuni Lapas untuk memperbaiki sikap dan memperkuat keimanan.
Kalapas Dede Mulyadi juga menyampaikan apresiasi atas ketertiban dan kekhusyukan warga binaan selama pelaksanaan ibadah berlangsung.
Ia menegaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti ini merupakan bagian penting dalam pembinaan kepribadian.
Menurutnya, pendekatan spiritual mampu memberikan dampak positif terhadap kondisi mental dan perilaku warga binaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para warga binaan tetap dapat merasakan makna hari raya meskipun jauh dari keluarga.
Kehadiran penceramah juga menjadi bagian penting dalam memberikan siraman rohani yang menenangkan dan membangun semangat baru.
Dengan suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan, perayaan Idul Fitri di Lapas Tebing Tinggi menjadi momen yang sarat makna dan harapan.

