
Tadulakonews.com – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan tokoh agama dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkoba dan dekadensi moral.
Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada kegiatan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) bersama Gereja Bagian Mandiri (GBM) GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), di Jemaat GPID Sola Gratia Palu, Senin (13/07/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang berlangsung pada 12–15 Juli 2026 itu mengusung tema “Bersama Segenap Elemen GPID Membangun Kemitraan Antar Gereja, Pemerintah dan Lembaga Lainnya untuk Menghijaukan Tri Mandiri: Teologi, Daya dan Dana.”
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur menyampaikan materi bertajuk “Menjaga Generasi Emas: Sinergi Pemimpin Daerah dan Tokoh Agama Menghadapi Badai Narkoba dan Dekadensi Moral.”
Ia mengingatkan bahwa masa depan bangsa saat ini dihadapkan pada dua tantangan besar, yakni penyalahgunaan narkoba dan merosotnya nilai-nilai moral yang menyasar generasi muda.
Menurutnya, kedua persoalan tersebut tidak dapat ditangani secara sektoral, tetapi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, tokoh agama, keluarga, lembaga pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.
“Ketika moral anak-anak terancam, sekat-sekat perbedaan menjadi tidak lagi penting. Kita dipersatukan oleh satu misi besar, yaitu menyelamatkan generasi penerus bangsa,” tegasnya.
Wakil Gubernur menjelaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab melalui regulasi, kebijakan, serta penegakan hukum dalam memberantas penyalahgunaan narkoba.
Di sisi lain, para pendeta dan tokoh agama memiliki peran strategis dalam membina hati, jiwa, serta spiritualitas umat agar tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan keimanan.
Menurutnya, sinergi yang kuat antara pemerintah dan tokoh agama akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045.
Ia juga mengingatkan bahwa narkoba bukan sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman serius yang mampu menghancurkan masa depan generasi muda.
Dampak penyalahgunaan narkoba, kata dia, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada fungsi otak sehingga menghilangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan motivasi hidup.
Selain itu, Wagub Reny menyoroti disrupsi nilai moral yang dinilai telah memengaruhi ketahanan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen gereja untuk memperkuat pendidikan iman, nilai-nilai moral, serta ketahanan keluarga agar mampu menghadapi berbagai pengaruh negatif di era globalisasi.
“Perbedaan iman tidak boleh membatasi langkah kita untuk bergandengan tangan. Di hadapan kerusakan akibat narkoba dan dekadensi moral, tidak ada sekat agama. Korbannya bisa anak dari siapa saja,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri Persekutuan Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala, perwakilan jemaat dari Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, serta jemaat Gereja Bagian Mandiri GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

