
Selasa 26 mei 2026, Provinsi Sulawesi Tengah kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional dalam hal merawat kebhinekaan. Berdasarkan riset terbaru yang dirilis oleh Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia, Bumi Tadulako ditetapkan sebagai daerah dengan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) kategori tinggi.
Riset tersebut menggunakan tiga dimensi utama dalam pengukurannya, yaitu toleransi, kebersamaan, dan kesetaraan. Ketiga aspek ini menjadi dasar untuk menilai tingkat kerukunan antarumat beragama di setiap daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil pengukuran menunjukkan Sulawesi Tengah meraih skor 87,9 pada dimensi toleransi, 56,2 pada dimensi kebersamaan, dan 77,85 pada dimensi kesetaraan. Akumulasi dari ketiga variabel tersebut menghasilkan nilai IKUB sebesar 73,99.
Nilai tersebut menempatkan Sulawesi Tengah dalam klaster daerah dengan indeks kerukunan tinggi, yakni pada rentang nilai 60,01 hingga 80,00. Capaian ini menjadi indikator positif bagi kondisi sosial masyarakat di daerah tersebut.
Menanggapi hasil riset ini, Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas pencapaian tersebut. Namun ia menegaskan bahwa hasil ini bukanlah kerja satu pihak saja.
Menurutnya, capaian ini merupakan buah dari kerja kolektif seluruh elemen masyarakat di Sulawesi Tengah yang secara konsisten menjaga harmoni sosial di kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa keberhasilan tersebut merupakan wujud nyata dari semangat gotong royong yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menjaga stabilitas dan kedamaian.
Tingginya nilai pada dimensi toleransi, yakni 87,9, menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah telah memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan keyakinan. Sikap saling menghormati menjadi bagian dari budaya yang terus terjaga.
Meski demikian, Prof. Zainal mengingatkan bahwa tantangan ke depan adalah meningkatkan dimensi kebersamaan agar interaksi sosial lintas iman semakin produktif dan inklusif dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi yang telah terjalin antara para tokoh agama seperti ulama, pendeta, biksu, pastor, pandito atau pinandita, serta unsur Forkopimda yang harus terus diperkuat.
Kerukunan, menurutnya, adalah sesuatu yang bersifat dinamis dan harus terus dirawat setiap hari. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan tetap menjaga komunikasi dan kebersamaan yang sudah terbangun.
FKUB Sulawesi Tengah juga menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan menjadi dorongan untuk terus memperkuat iklim harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, memiliki tanggung jawab yang sama dalam menciptakan rasa aman dan damai di daerah masing-masing.
Riset P3M Universitas Indonesia sendiri membagi IKUB ke dalam lima kategori, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Dengan skor 73,99, Sulawesi Tengah berada pada kategori tinggi, yang mencerminkan kondisi sosial yang stabil.
Capaian ini juga dinilai membawa dampak positif bagi berbagai sektor, termasuk investasi, pariwisata, serta pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Tengah.
Prof. Zainal menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah yang telah berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di lingkungan masing-masing.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar semangat kebersamaan ini terus terjaga demi mewujudkan Sulawesi Tengah Nambaso yang maju, aman, harmonis, dan penuh berkah.

