TRENGGALEK – Tadulakonews.com – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, memicu bencana tanah longsor di sejumlah wilayah Kecamatan Munjungan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek mencatat sebanyak 19 titik longsor tersebar di lima desa hingga Sabtu (31/10/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, mengatakan pendataan dan penanganan masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi warga serta mengetahui dampak kerusakan di lokasi terdampak.
Bencana tersebut berdampak terhadap 34 kepala keluarga (KK) atau 103 jiwa. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dengan kategori ringan hingga sedang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pendataan dan penanganan terus kami lakukan untuk memastikan kondisi warga serta dampak kerusakan akibat tanah longsor,” ujar Triadi dalam keterangan resminya, Sabtu (31/10/2026).
Berdasarkan data sementara BPBD Trenggalek, Desa Craken menjadi wilayah dengan jumlah titik longsor terbanyak, yakni delapan titik. Kejadian tersebut mengakibatkan 20 rumah warga mengalami kerusakan ringan.
Selanjutnya, di Desa Masaran tercatat empat titik longsor yang berdampak pada lima rumah dengan kategori kerusakan ringan. Sementara itu, di Desa Munjungan terdapat satu titik longsor yang berdampak pada dua rumah warga.
Adapun dua desa lainnya mengalami kerusakan rumah dengan kategori sedang. Di Desa Sobo terdapat dua titik longsor yang mengakibatkan dua rumah mengalami kerusakan sedang.
Sedangkan di Desa Ngulungkulon, BPBD mencatat empat titik longsor dengan empat rumah mengalami kerusakan sedang.
“Di Desa Sobo ada dua titik longsor dan berdampak ke dua rumah. Di Desa Ngulungkulon, empat rumah terdampak tanah longsor dengan kerusakan sedang,” jelas Triadi.
Secara keseluruhan, 19 titik longsor tersebut tersebar di lima desa di Kecamatan Munjungan. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan rumah warga, tetapi juga menyebabkan puluhan keluarga terdampak.
BPBD Trenggalek masih melakukan pemantauan di sejumlah wilayah terdampak untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan, terutama apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur kawasan tersebut.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng maupun wilayah rawan longsor diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta segera melaporkan kepada pihak terkait apabila menemukan tanda-tanda potensi longsor, seperti retakan tanah, pergerakan lereng, atau perubahan kondisi tanah.
Bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Munjungan tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah setempat sejak Kamis (29/10/2026) hingga Jumat (30/10/2026) pagi.
Triadi mengungkapkan, kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pendataan di lapangan. Jarak antarlokasi yang cukup jauh, medan terjal, serta kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat petugas harus menunda pendataan di sejumlah wilayah.
“Kendala yang dialami tim di lapangan, lokasi Desa Sobo dan Desa Ngulungkulon jaraknya cukup jauh dan terjal. Selain itu, cuaca kurang mendukung dan hari sudah malam, sehingga pendataan dilakukan keesokan harinya,” papar Triadi.
Hingga saat ini, BPBD Trenggalek masih melanjutkan pendataan dan penanganan untuk memastikan kondisi warga terdampak serta mengidentifikasi kebutuhan penanganan di masing-masing lokasi.





