
Tadulakonews.com – Di tengah keramaian masyarakat yang sedang berolahraga pagi di Lapangan Vatulemo, saya membaca sebuah renungan dari Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin. Dalam flyer itu tertulis sebuah pesan yang sangat menyentuh: “Mewujudkan tata dunia baru agama-agama, yaitu agama hadir bukan untuk peperangan dan permusuhan, melainkan untuk perdamaian, kemaslahatan, serta kesejahteraan umat manusia.”
Pesan tersebut terasa sangat relevan di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan. Agama seharusnya menjadi sumber ketenangan dan kebijaksanaan, bukan alat untuk membenarkan kebencian dan permusuhan.
Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan kedalaman filosofis yang besar. Kita diingatkan bahwa dalam bentuknya yang paling luhur, agama hadir untuk merawat kehidupan manusia dan membangun etika sosial yang penuh kasih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kajian agama-agama, pemikir besar Huston Smith melihat agama sebagai wisdom traditions atau tradisi kebijaksanaan. Menurutnya, agama-agama besar dunia menyimpan jawaban manusia atas pertanyaan paling mendasar tentang makna hidup, penderitaan, kematian, dan tujuan akhir kehidupan.
Melalui karya terkenalnya The World’s Religions (Agama-Agama Manusia), Huston Smith memperkenalkan ajaran pokok agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Konfusianisme, Taoisme, Yahudi, Kristen, Islam, dan berbagai tradisi lokal. Tujuannya bukan untuk mempertentangkan agama-agama itu, melainkan untuk memahami kedalaman spiritual masing-masing.
Dari perspektif Huston Smith, agama tidak boleh dipahami hanya dari sisi konflik sejarahnya. Memang benar bahwa dalam perjalanan sejarah, agama kadang terlibat dalam konflik sosial dan politik. Ada masa ketika agama menjadi kekuatan pembebasan, tetapi ada pula masa ketika agama diseret ke dalam kekuasaan, kekerasan, dan peperangan.
Namun kesalahan manusia dalam menggunakan agama tidak boleh dijadikan alasan untuk menyalahkan agama sebagai sumber utama permusuhan. Yang bermasalah sering kali bukan ajaran agamanya, melainkan cara manusia memahami dan memanfaatkannya.
Karena itu, tugas utama kaum beragama adalah mengembalikan agama kepada watak dasarnya, yaitu membimbing manusia agar menjadi lebih bijaksana, rendah hati, adil, dan penuh kasih sayang.
Pemikiran Frithjof Schuon memberi dasar metafisik yang lebih mendalam terhadap gagasan tersebut. Dalam bukunya The Transcendent Unity of Religions (Mencari Titik Temu Agama-Agama), Schuon menjelaskan bahwa agama-agama memang berbeda pada wilayah lahiriah atau eksoterik.
Perbedaan itu tampak dalam ritual, hukum, simbol, bahasa teologis, dan bentuk kelembagaan masing-masing agama. Namun pada lapisan batiniah atau esoterik, agama-agama besar sesungguhnya mengarah kepada Yang Suci dan nilai-nilai luhur yang melampaui ego manusia.
Pandangan Schuon tentu tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan semua agama. Setiap agama tetap memiliki keyakinan, jalan ibadah, dan identitasnya sendiri. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk saling meniadakan dan memusuhi.
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, terutama Sulawesi Tengah yang kaya akan keragaman agama, suku, dan budaya, pandangan ini sangat penting. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, seharusnya semakin luas pula penghormatannya terhadap martabat manusia.
Pemikiran Karen Armstrong melengkapi gagasan tersebut melalui pendekatan historis dan etis. Dalam bukunya The Case for God (Masa Depan Tuhan), Armstrong menjelaskan bahwa agama tidak semata-mata kumpulan doktrin yang diperdebatkan, melainkan latihan spiritual dan moral untuk membentuk manusia yang lebih berbelas kasih.
Menurut Armstrong, agama dapat kehilangan kemuliaannya ketika terseret ke dalam ketidakadilan, perebutan kekuasaan, dan kekerasan sistemik. Dalam situasi demikian, agama kehilangan fungsi profetiknya sebagai pembela kemanusiaan.
Karena itu, agama perlu dikembalikan kepada prinsip kasih sayang, keadilan, dan kerendahan hati. Agama yang benar bukanlah agama yang membuat manusia merasa paling suci, tetapi agama yang membuat manusia mampu menghormati kehidupan orang lain.
Seruan untuk mewujudkan “tata dunia baru agama-agama” pada akhirnya dapat dimaknai sebagai ajakan membangun peradaban baru yang menjadikan agama sebagai sumber perdamaian global.
Tata dunia baru itu bukan berarti menyeragamkan semua agama, juga bukan menjadikan agama sekadar simbol formal dalam seremoni publik. Yang dibutuhkan adalah keberanian moral untuk menjadikan nilai-nilai agama sebagai etika sosial dalam kehidupan bersama.
Nilai-nilai itu diwujudkan dalam sikap menolak kekerasan, melindungi kelompok lemah, memperkuat solidaritas sosial, serta membangun kesejahteraan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam konteks Sulawesi Tengah, pesan ini memiliki bobot historis dan sosial yang sangat kuat. Daerah ini pernah mengalami luka sosial akibat konflik, sehingga menjaga kerukunan bukan sekadar pekerjaan seremonial, melainkan tanggung jawab moral bersama.
Kerukunan membutuhkan kesabaran, dialog, keadilan, dan kepemimpinan moral yang terus dirawat. FKUB, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, akademisi, pemuda, dan pemerintah harus terus menjaga ruang perjumpaan antarumat beragama.
Dialog tidak boleh dilakukan hanya ketika masalah muncul. Dialog harus menjadi budaya hidup sehari-hari agar rasa saling percaya tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.
Organisasi berbasis Islam seperti Alkhairaat, NU, Muhammadiyah, dan KAHMI, bersama organisasi keagamaan non-Islam lainnya, memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat narasi keagamaan yang mencerahkan dan mempersatukan.
Islam, dalam wataknya sebagai rahmatan lil alamin, tidak boleh dipersempit menjadi identitas yang kaku dan eksklusif. Islam harus hadir sebagai rahmat, akal sehat, keadaban, dan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Dalam bingkai kebangsaan Indonesia, keberagamaan yang matang adalah keberagamaan yang mampu menjaga iman sekaligus merawat persaudaraan. Agama tidak cukup hanya menjadi klaim kebenaran, tetapi harus hadir sebagai laku kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Agama seharusnya tampak dalam cara manusia berbicara, berbeda pendapat, memimpin, berdagang, berpolitik, dan memperlakukan sesama dengan hormat dan keadilan.
Jika agama hanya dipakai untuk membesarkan kelompok sendiri, maka agama akan kehilangan pesan universalnya. Tetapi bila agama menjadi jalan kasih, keadilan, dan kemaslahatan, maka agama akan menjadi energi besar untuk membangun dunia yang lebih damai dan berkeadaban.
Karena itu, pesan Prof. Dr. KH. Zainal Abidin patut dibaca sebagai wisdom call zaman atau suara kebijaksanaan bagi era modern yang penuh tantangan ini. Pesan itu mengajak kita menjadikan agama bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai cahaya yang menuntun manusia menuju perdamaian dan kemanusiaan universal. Oleh Salihudin ( kahmi Sulawesi tengah )

