Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan

- Penulis

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Spread the love

Tadulakonews.com – Di tengah keramaian masyarakat yang berolahraga pagi di Lapangan Vatulemo, saya membaca renungan Prof. Dr. KH. Zainal Abidin. Ketua FKUB Sulawesi Tengah itu menulis sebuah pesan moral yang sangat penting bagi kehidupan manusia modern. Ia mengatakan bahwa perlu diwujudkan tata dunia baru agama-agama, yakni agama hadir bukan untuk peperangan dan permusuhan, melainkan untuk perdamaian, kemaslahatan, dan kesejahteraan umat manusia.

Kalimat tersebut menyimpan kedalaman filosofis yang kuat. Agama diingatkan kembali pada hakikatnya yang paling luhur, bukan sebagai alat pembenar kebencian, melainkan sumber etika untuk merawat kehidupan bersama. Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh konflik identitas, pesan itu terasa semakin relevan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemikir agama Huston Smith melihat agama sebagai wisdom traditions atau tradisi kebijaksanaan. Menurutnya, agama-agama besar dunia menyimpan jawaban atas pertanyaan terdalam manusia tentang makna hidup, penderitaan, kematian, kebaikan, dan tujuan akhir kehidupan. Dalam karya terkenalnya The World’s Religions, Smith memperkenalkan ajaran pokok agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Konfusianisme, Taoisme, Yahudi, Kristen, Islam, dan tradisi lokal, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami kedalaman spiritualnya.

Dari perspektif Huston Smith, agama tidak boleh dipahami hanya dari sisi konflik sejarahnya. Memang dalam perjalanan sejarah, agama pernah menjadi kekuatan pembebasan, tetapi juga pernah diseret ke dalam kekuasaan dan kekerasan. Namun kesalahan manusia dalam menggunakan agama tidak dapat dijadikan alasan untuk menuduh agama sebagai sumber utama permusuhan.

Tugas kaum beragama justru mengembalikan agama kepada watak dasarnya, yakni membimbing manusia menjadi lebih bijaksana, rendah hati, adil, dan penuh kasih. Agama seharusnya melahirkan manusia yang mampu menjaga martabat sesama, bukan merendahkannya.

Pemikiran Frithjof Schuon memberikan dasar metafisik yang lebih mendalam mengenai hubungan antaragama. Dalam The Transcendent Unity of Religions, Schuon menjelaskan bahwa agama-agama memang berbeda pada wilayah lahiriah atau eksoterik, seperti ritual, simbol, hukum, dan bahasa teologis. Namun pada wilayah batiniah atau esoterik, agama-agama besar memiliki orientasi yang sama, yakni menuju Yang Suci dan nilai-nilai luhur yang melampaui ego manusia.

Pandangan Schuon bukanlah ajakan mencampuradukkan agama. Setiap agama tetap memiliki jalan ibadah dan kebenarannya masing-masing. Akan tetapi, perbedaan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk saling meniadakan atau memusuhi.

Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, terutama Sulawesi Tengah yang kaya akan keberagaman agama, suku, dan budaya, pemikiran tersebut memberikan pelajaran penting. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, seharusnya semakin luas pula penghormatannya terhadap martabat manusia.

Karen Armstrong melengkapi pandangan itu melalui pendekatan historis dan etis. Dalam The Case for God, Armstrong menegaskan bahwa agama tidak cukup dipahami hanya sebagai kumpulan doktrin yang diperdebatkan. Agama pada hakikatnya merupakan latihan spiritual dan moral untuk membentuk manusia yang lebih berbelas kasih.

Armstrong juga mengingatkan bahwa agama dapat tercemar ketika terseret ke dalam ketidakadilan, kekuasaan, dan kekerasan sistemik. Dalam kondisi seperti itu, agama kehilangan fungsi profetiknya sebagai pembela kemanusiaan dan penjaga moralitas publik.

Karena itu, agama perlu dikembalikan kepada prinsip kasih sayang, keadilan, dan kerendahan hati. Agama yang benar bukanlah agama yang membuat manusia merasa paling suci, tetapi agama yang membuat manusia mampu menghormati kehidupan orang lain.

Seruan untuk membangun “tata dunia baru agama-agama” pada dasarnya merupakan ajakan membangun peradaban baru yang menjadikan agama sebagai sumber perdamaian global. Tata dunia baru itu bukan berarti menyeragamkan agama ataupun menjadikan agama sekadar simbol formal dalam seremoni publik.

Yang dibutuhkan adalah keberanian moral untuk menjadikan nilai agama sebagai etika sosial. Nilai-nilai itu harus hadir dalam sikap menolak kekerasan, melindungi kelompok lemah, memperkuat solidaritas, dan membangun kesejahteraan bersama.

Dalam konteks Sulawesi Tengah, pesan tersebut memiliki makna historis dan sosial yang sangat kuat. Daerah ini pernah mengalami luka sosial akibat konflik. Karena itu, menjaga kerukunan bukanlah pekerjaan seremonial, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, dialog, keadilan, dan kepemimpinan moral.

FKUB, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, akademisi, pemuda, dan pemerintah perlu terus merawat ruang perjumpaan antarumat. Dialog tidak boleh dilakukan hanya ketika masalah muncul, tetapi harus menjadi budaya hidup sehari-hari.

Organisasi berbasis Islam seperti Alkhairaat, NU, Muhammadiyah, dan KAHMI juga memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat narasi keagamaan yang mencerahkan. Demikian pula organisasi dengan basis non-Islam perlu terus memperkuat semangat persaudaraan dan kerja sama sosial.

Islam, dalam wataknya sebagai rahmatan lil alamin, tidak boleh dipersempit menjadi identitas yang kaku. Islam harus hadir sebagai rahmat, akal sehat, keberadaban, dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Dalam bingkai kebangsaan Indonesia, keberagamaan yang matang adalah keberagamaan yang mampu menjaga iman sekaligus merawat persaudaraan.

Pada akhirnya, agama tidak boleh berhenti sebagai klaim kebenaran semata. Agama harus menjadi laku kebaikan yang tampak dalam cara manusia berbicara, berbeda pendapat, memimpin, berdagang, berpolitik, dan memperlakukan sesama.

Jika agama hanya dipakai untuk membesarkan kelompok sendiri, maka agama akan kehilangan pesan universalnya. Namun apabila agama menjadi jalan kasih, keadilan, dan kemaslahatan, maka agama akan menjadi energi besar untuk membangun dunia yang lebih damai dan manusiawi.

Karena itu, pesan Prof. Dr. KH. Zainal Abidin patut dibaca sebagai sebuah wisdom call bagi zaman ini. Sebuah seruan moral agar agama kembali menjadi cahaya yang menuntun manusia menuju perdamaian, persaudaraan, dan kemuliaan hidup bersama. Oleh: Salahudin ( kahmi Sulawesi tengah )

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel tadulakonews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Patroli Malam Rutin, Polsek Poso Pesisir Perkuat Keamanan Wilayah
Tiang dan Kabel Jalan di Dusun Tanaharapan Membahayakan Pengguna Jalan
Tiang Miring dan Kabel Menjuntai di Tanaharapan Ancam Keselamatan Pengguna Jalan
Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan
Polresta Palu Panen Jagung Serentak Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Polsek Tawaeli Ungkap Kasus Dugaan Sabu di Mamboro, Seorang Pria Diamankan
Kapolres Parigi Moutong Dukung Panen Raya Jagung Serentak untuk Perkuat Swasembada Pangan Nasional
Wakapolda Sulteng Hadiri Panen Raya Jagung Serentak di Desa Loru Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 10:18 WIB

Patroli Malam Rutin, Polsek Poso Pesisir Perkuat Keamanan Wilayah

Senin, 18 Mei 2026 - 07:57 WIB

Tiang dan Kabel Jalan di Dusun Tanaharapan Membahayakan Pengguna Jalan

Senin, 18 Mei 2026 - 07:38 WIB

Tiang Miring dan Kabel Menjuntai di Tanaharapan Ancam Keselamatan Pengguna Jalan

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:58 WIB

Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:45 WIB

Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan

Berita Terbaru

Daerah

Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:58 WIB

Daerah

Agama sebagai Jalan Perdamaian dan Kemanusiaan

Minggu, 17 Mei 2026 - 20:45 WIB