
Tadulakonews.com – Lebaran Ketupat yang dirayakan satu minggu setelah Idul Fitri (1 Syawal) memiliki makna mendalam bagi para perantau asal Jawa di Sulawesi Tengah. Tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan “Bakda Kupat” ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan sarat nilai simbolis, spiritual, dan sosial.
Dalam rangka pengamanan kegiatan tersebut, Polsek Balaesang menurunkan sejumlah personel bersama unsur TNI dari Koramil 1306-14/Balaesang. Kegiatan pengamanan ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Balaesang, IPTU Ramto L.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Personel yang diturunkan antara lain AIPDA Yakub selaku Kanit Binmas, AIPDA Abd. Gafur sebagai Kanit Provos, BRIPKA Zulkipli selaku Kanit Reskrim, AIPDA Arifin dan BRIGPOL Jamaludin sebagai Bhabinkamtibmas, serta Babinsa dari Koramil Balaesang.
Kapolsek Balaesang IPTU Ramto L menyampaikan bahwa pihaknya berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan aman dan tertib. Hal tersebut disampaikan kepada awak media di lokasi kegiatan, Pantai Sibayu, Kecamatan Balaesang, Donggala, Sabtu 28 Maret 2026.
Kapolres Donggala AKBP Angga Dewanto Basari melalui Kapolsek Balaesang menegaskan bahwa Lebaran Ketupat memiliki makna sebagai semangat saling memaafkan setelah Idul Fitri 1447 H.
Lebaran Ketupat juga bukan sekadar ajang makan bersama, tetapi menjadi momen penting yang mempertemukan nilai ketaatan religius setelah menjalankan puasa sunnah Syawal.
Kapolsek Balaesang turut menghimbau masyarakat agar selama kegiatan berlangsung tetap menjaga keamanan dan ketertiban demi kenyamanan bersama.
Salah satu pengunjung, Andi, warga Beromaru Kaili yang tinggal di Desa Budi Mukti, Kecamatan Dampelas, turut menyampaikan kesannya terhadap kegiatan tersebut.
Andi yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di RS Torabelo Sigi dan memiliki istri asal Jawa menjelaskan bahwa Lebaran Ketupat memiliki nilai filosofis tersendiri bagi masyarakat Jawa perantauan.
Ia menyebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan puasa sunnah Syawal selama enam hari, yang kemudian dirayakan pada hari ketujuh dengan Lebaran Ketupat.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga dari berbagai desa yang berkumpul di Pantai Sibayu.
Kegiatan Lebaran Ketupat tahun ini dimulai sejak Sabtu pagi hingga sore hari dan dihadiri oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Seorang pedagang asal Bandung, Jawa Barat, yang akrab disapa Kang Rian, juga turut meramaikan kegiatan tersebut dengan berjualan mainan anak-anak.
Ia mengaku baru pertama kali berjualan di Pantai Sibayu dan merasa antusias dengan ramainya pengunjung yang datang.
Kang Rian menjelaskan bahwa ia telah berada di Kota Palu sejak sebelum bulan puasa dan memiliki keluarga di sana, sehingga memudahkan dirinya untuk merantau dan berdagang.
Barang dagangannya berupa mainan anak-anak dengan harga berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 per buah, yang merupakan hasil produksi kerajinan dari Bandung.
Ia juga mengaku merasa nyaman berjualan di Sulawesi Tengah karena masyarakatnya ramah, bersahaja, dan kondisi daerah yang aman.
Kegiatan Lebaran Ketupat di Pantai Sibayu ini dihadiri ribuan pengunjung, baik dari kalangan perantau Jawa maupun masyarakat lokal.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga membawa berkah ekonomi bagi warga setempat, terutama para pemuda yang mengelola parkiran kendaraan.
Kanit Binmas Polsek Balaesang, AIPDA Yakub, menyampaikan rasa syukur karena kegiatan berlangsung dengan aman dan kondusif.
Ia menuturkan bahwa sejak pagi hingga sore hari, lokasi dipadati pengunjung namun tetap berjalan tertib tanpa adanya kejadian menonjol.
Menurutnya, masyarakat dapat menikmati suasana Lebaran Ketupat dengan nyaman dan penuh kebersamaan.
AIPDA Yakub juga menambahkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh warga dari desa-desa sekitar seperti Budi Mukti dan Karya Mukti di Kecamatan Dampelas.
Para perantau Jawa pun memilih Pantai Sibayu sebagai lokasi utama perayaan Lebaran Ketupat di wilayah hukum Polsek Balaesang.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar, aman, dan penuh kebersamaan, mencerminkan nilai budaya dan kekeluargaan yang kuat di tengah masyarakat.

