
Tadulakonews.com – PALU, 13 Oktober 2026 – Gelombang dukungan moral dan solidaritas lintas iman kepada Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., terus mengalir di tengah proses hukum yang sedang dijalaninya.
Konsistensi dan keteguhan Prof. Zainal dalam memperjuangkan toleransi dinilai bukan sekadar persoalan personal, melainkan menyangkut masa depan kerukunan, perdamaian, dan stabilitas sosial di Bumi Tadulako.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dukungan terbuka kali ini datang dari Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID), Pdt. Dr. Alexander Zeth Rondonuwu, M.Teol. Ia menegaskan bahwa jajaran gereja dan masyarakat sipil yang mendambakan kedamaian berdiri bersama Prof. Zainal dalam memperjuangkan toleransi dan moderasi beragama.
Menurut Pdt. Alexander, persoalan yang dihadapi Prof. Zainal tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlangsungan kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Tengah.
“Persoalan yang dihadapi oleh Pak Prof bukan cuma persoalan pribadi, tetapi persoalan kemanusiaan, persoalan kerukunan yang ada di Sulawesi Tengah. Pak Prof sebagai tokoh yang selalu memperjuangkan keharmonisan, toleransi, kedamaian di Sulawesi Tengah, menghadapi masalah itu, Pak Prof itu tidak sendirian,” tegas Pdt. Alexander saat ditemui di kantornya.
Ia menambahkan, perjuangan Prof. Zainal selama ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk gereja-gereja yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.
“Pak Prof sudah melakukan yang baik untuk masyarakat Sulawesi Tengah, didukung oleh seluruh masyarakat, semua gereja. Gereja-gereja itu memberi support kepada Pak Prof untuk terus memperjuangkan itu kedamaian, toleransi, dan moderasi beragama di Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Lebih jauh, Pdt. Alexander mengaku heran sekaligus prihatin terhadap sikap sejumlah pihak yang menolak atau menentang dakwah moderasi beragama yang selama ini disuarakan Prof. Zainal. Menurutnya, upaya menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi semestinya dipandang sebagai ikhtiar bersama untuk menjaga kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Ia menilai Sulawesi Tengah memiliki aset berharga dengan kehadiran tokoh-tokoh agama yang konsisten merawat kerukunan, termasuk Prof. Zainal yang dikenal aktif memperjuangkan keharmonisan antarumat beragama. Peran para tokoh tersebut dinilai penting dalam memperkuat persatuan dan menjaga stabilitas sosial daerah.
Pdt. Alexander juga menekankan bahwa keberadaan tokoh lintas agama yang peduli terhadap kerukunan merupakan bagian penting dari upaya mengantisipasi potensi gesekan antarkelompok. Dialog, sikap saling menghormati, dan penyampaian pesan keagamaan yang menyejukkan dinilai menjadi fondasi untuk mencegah konflik di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam pandangannya, penolakan terhadap dakwah moderasi beragama berpotensi melemahkan upaya membangun perdamaian. Ia mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan lebih banyak tokoh yang menyuarakan kebaikan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan, bukan justru mempersempit ruang bagi dialog dan kebersamaan.
Pdt. Alexander turut menyoroti risiko yang dapat muncul apabila upaya para tokoh agama dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi terus dihambat. Menurutnya, situasi tersebut dapat berdampak pada iklim kerukunan dan membuat para pejuang moderasi beragama merasa ruang geraknya semakin terbatas.
Ia mengingatkan bahwa penguatan moderasi beragama bukanlah upaya untuk merendahkan keyakinan tertentu. Sebaliknya, pesan tersebut bertujuan mendorong setiap umat beragama menjalankan kehidupan dengan baik, saling menghormati, dan membangun hubungan yang damai di tengah perbedaan.
“Tindakan yang menghalangi suatu kebaikan itu adalah bentuk dari kejahatan. Kalau dia menghambat dari perbuatan baik, itu dia melakukan tindakan yang menyimpang dari kebaikan itu dan kebenaran itu,” kata Pdt. Alexander.
Ia menegaskan bahwa pesan yang disampaikan Prof. Zainal merupakan ajakan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan, bukan untuk merendahkan agama atau keyakinan siapa pun. Menurutnya, ajakan untuk hidup berdamai dan saling menyayangi seharusnya menjadi kepentingan bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kalau seorang Profesor Zainal Abidin menyampaikan kebaikan untuk semua orang, dia itu bukan merendahkan suatu agama, justru mengangkat derajat kita semua. Itu supaya sebagai umat beragama itu hidup kita itu baik, hidup kita berdamai, hidup kita itu baku sayang. Itu kan konsepnya,” ungkapnya.
Pdt. Alexander pun menegaskan bahwa sikap menentang pesan perdamaian, kebaikan, dan kesetaraan patut menjadi perhatian bersama. Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus menjaga komitmen terhadap toleransi dan tidak membiarkan perbedaan pandangan mengikis semangat persaudaraan di Sulawesi Tengah.
“Lalu, ada orang yang menentang itu. Orang yang menentang ini berarti menentang perdamaian, menentang kebaikan, menentang kesetaraan. Jadi orang atau tindakan yang melawan kebaikan, melawan kebenaran adalah pelaku kejahatan itu sesungguhnya,” pungkas Pdt. Alexander.




