Tadulakonews.com – Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Untad) Palu mengikuti Pelatihan Toleransi dan Penguatan Moderasi Beragama di Kalangan Mahasiswa, Selasa (15/9) pagi, di Aula Fakultas Hukum Untad Palu.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai toleransi, kerukunan, dan moderasi beragama di tengah perkembangan teknologi informasi.
Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. KH. Zainal Abidin, mengatakan moderasi beragama penting diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan keyakinan yang beragam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kehidupan beragama perlu memiliki prinsip moderasi agar masyarakat mampu menjalankan keyakinannya dengan baik sekaligus tetap hidup rukun dan damai di tengah perbedaan.
“Bagaimana orang beragama itu bisa berkehidupan yang rukun dan damai di tengah perbedaan-perbedaan. Karena itu, dalam kehidupan beragama perlu ada patokan moderasi beragama,” ujar Zainal.
Prof. Zainal Abidin juga mendorong adanya kolaborasi antara FKUB, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memperkuat kelembagaan serta program kerukunan umat beragama di Sulawesi Tengah.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat diarahkan pada penyusunan rancangan peraturan daerah tentang penguatan kerukunan dan keberadaan FKUB.
“Kita tidak boleh diam sekarang. Kelompok-kelompok intoleransi dan radikal itu hari ini masih bekerja. Mereka secara diam-diam bekerja terus melalui media sosial,” katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, Dr. Sofyan Bachmid, mengingatkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif.
Menurut Sofyan, teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi memberikan kemudahan bagi masyarakat, namun di sisi lain dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang merusak tatanan sosial, termasuk hoaks dan narasi intoleransi.
Ia menerangkan, mahasiswa menghadapi tantangan serius berupa penyebaran hoaks bernuansa agama di media sosial. Kondisi tersebut, kata dia, diperparah dengan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin cepat, terutama melalui platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok.
“Perang sekarang bukan hanya terjadi di darat, tetapi juga di dunia maya. Karena itu, orang-orang yang berpikir positif, termasuk mahasiswa, harus masuk ke ruang digital dan membanjirinya dengan konten-konten positif,” ujar Sofyan.
Ia mengatakan FKPT Sulteng bersama sejumlah pihak telah menjalankan program pelatihan bagi pelajar dan mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan media sosial secara positif.
Pelatihan tersebut mendorong mahasiswa memiliki keterampilan membuat dan menyebarkan konten yang edukatif serta toleran, sekaligus mampu menangkal narasi radikalisme dan intoleransi di ruang digital.
Sofyan juga mengingatkan para pendidik, tokoh agama, dan mahasiswa agar tidak meninggalkan ruang digital. Menurutnya, jika ruang tersebut tidak diisi dengan narasi positif, maka akan semakin mudah didominasi oleh informasi dan paham yang dapat mengancam kerukunan.
“Para pendidik, ustaz, pendeta, dan mahasiswa tidak bisa lagi meninggalkan dunia maya. Kita harus bersama-sama masuk ke ruang itu dan menghadirkan pemikiran serta konten yang positif,” pungkasnya.





