
Tadulakonews.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, , menanggapi viralnya kasus dugaan praktik asusila yang melibatkan dua mahasiswa sesama jenis di salah satu perguruan tinggi, yakni .
Menurut Prof. KH. Zainal Abidin, peristiwa tersebut harus menjadi perhatian serius bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai, pengawasan yang lebih ketat perlu diimbangi dengan pembinaan keagamaan, kerohanian, dan pendidikan karakter yang berkelanjutan bagi seluruh mahasiswa.
Dengan adanya pembinaan yang baik, diharapkan berbagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, akhlak, dan ajaran agama dapat dicegah sejak dini.
Prof. Zainal menjelaskan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia unggul secara akademik.
Lebih dari itu, menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter, kepribadian, dan akhlak para peserta didik.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kualitas moral dan integritas lulusannya.
Karena itu, pembinaan karakter harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di setiap perguruan tinggi.
Selain peran institusi pendidikan, Prof. Zainal juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.
Menurutnya, seluruh elemen masyarakat perlu bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif serta mendukung terbentuknya perilaku yang sesuai dengan norma agama dan nilai sosial yang berlaku.
Ia menilai, kontrol sosial yang baik dari masyarakat dapat menjadi salah satu upaya pencegahan terhadap berbagai perilaku yang dianggap menyimpang.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Zainal juga mengingatkan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mengawasi dan membina anak-anak mereka, terutama yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Pengawasan dan komunikasi yang baik dalam keluarga dinilai mampu menjadi benteng yang kuat bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.
Ia menegaskan bahwa pendidikan moral dan agama harus dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tempat pertama pembentukan karakter seorang anak.
Selain itu, Prof. Zainal mendorong adanya regulasi dan aturan yang lebih tegas di lingkungan pendidikan guna mencegah terjadinya perbuatan yang dianggap melanggar norma agama, moral, dan etika.
Ia berharap seluruh pihak, mulai dari kampus, keluarga, tokoh agama, hingga masyarakat, dapat bersinergi dalam membangun generasi muda yang berakhlak, berintegritas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

