
PALU – Tadulakonews.com – Keberagaman etnis dan budaya di lingkungan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun ruang akademik yang inklusif. Namun, di balik keberagaman tersebut terdapat potensi gesekan yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu kerukunan di lingkungan kampus.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Talkshow Interaktif bertema “Berdamai dengan Racial dan Ethnic Microaggression di Lingkungan Kampus” yang digelar di Conference Room Media Center Universitas Tadulako (Untad), Senin (5/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang diselenggarakan Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) Untad tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anti Kekerasan Internasional.
Talkshow itu menghadirkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., sebagai pembicara utama.
Dalam pemaparannya, Prof Zainal Abidin menggarisbawahi bahwa kampus merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang etnis, budaya, agama, dan daerah yang ideal untuk membangun kehidupan yang harmonis.
Namun, keberagaman tersebut juga dapat menjadi rentan ketika muncul prasangka, candaan, atau ucapan yang dianggap sepele tetapi berulang dan meninggalkan dampak bagi pihak yang menjadi sasaran.
Prof Zainal menyebut fenomena tersebut sebagai mikroagresi, yakni bentuk perlakuan atau komunikasi yang tampak ringan di permukaan, tetapi dapat menimbulkan luka dan dampak psikologis apabila terjadi secara terus-menerus.
“Mikroagresi rasial dan etnis adalah bentuk kekerasan kultural yang tampak ringan di permukaan, tetapi dampaknya sangat besar jika terakumulasi. Ejekan terhadap suku, logat, atau asal daerah tertentu sangat mudah bergeser menjadi sentimen terhadap agama yang dianut,” ujar Prof Zainal Abidin.

Menurutnya, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena prasangka terhadap identitas etnis atau daerah dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas, termasuk sentimen yang berkaitan dengan agama dan identitas sosial.
“Di sinilah peran FKUB relevan untuk meredam potensi konflik SARA sejak di tingkat akar rumput kampus,” katanya.
Pakar Pemikiran Islam Modern itu juga menjelaskan bahwa mikroagresi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mikroserangan, mikrohinaan, hingga mikroinvalidasi.
Jika dibiarkan, berbagai bentuk mikroagresi tersebut berpotensi mengikis toleransi, menciptakan rasa tidak nyaman, serta memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik dan sosial di kampus.
Karena itu, Prof Zainal mendorong penerapan komunikasi nirkekerasan atau nonviolent communication sebagai salah satu pendekatan untuk membangun interaksi yang lebih sehat dan saling menghargai.
Selain komunikasi nirkekerasan, ia menilai pentingnya membangun iklim kampus yang inklusif dan sejalan dengan indikator moderasi beragama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, serta penerimaan terhadap budaya lokal.
“Berdamai bukan berarti membenarkan atau pasrah terhadap diskriminasi. Berdamai berarti menolak membalas kekerasan dengan kekerasan, sambil tetap menuntut pengakuan dan perubahan melalui dialog yang konstruktif,” tegasnya.
Menurut Prof Zainal, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum formal atau di ruang pertemuan para pemuka agama. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses pembelajaran dan interaksi antarmahasiswa.
“Kerukunan tidak hanya dirawat di ruang rapat para pemuka agama, tetapi juga di ruang kuliah, grup percakapan, dan kantin kampus,” pungkasnya.




