tadulakonews.com – BERAU – Aksi damai yang digelar di halaman Kantor Bupati Berau terkait keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) didominasi oleh ratusan pekerja Satuan Pelayanan Dapur Umum (SPPG).
Para peserta aksi menilai program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan bergizi, tetapi juga telah menjadi sumber penghasilan baru bagi banyak keluarga di Kabupaten Berau.
Salah satu peserta aksi, Alifiyah, pekerja bagian pemorsian di salah satu SPPG wilayah Tanjung Redeb, mengaku merasakan langsung dampak positif dari program yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, adanya penyesuaian aturan dalam pelaksanaan MBG bukan menjadi persoalan besar selama program tersebut tetap berjalan dan dapur umum tetap beroperasi.
“Kalau sampai ada peraturan-peraturan baru ya tidak apa-apa. Yang penting tetap berjalan,” ujar Alifiyah kepada Berauterkini, Rabu (1/7/2026).
Alifiyah menjelaskan, keberadaan program MBG sangat membantu para perempuan yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan di sektor formal, terutama bagi mereka yang terkendala usia.
Dengan bekerja di dapur umum, beban ekonomi keluarga menjadi lebih ringan, terutama dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
“Mungkin kalau di lain tidak bisa kerja kalau ibu-ibu yang sudah lanjut. Alhamdulillah dengan adanya MBG kita bisa masuk,” jelasnya.
Hal senada disampaikan pekerja SPPG Sei Bedungun, Sri Astuti. Ia berharap program MBG dapat terus dipertahankan dan berjalan dalam jangka panjang.
Menurutnya, setelah hampir delapan bulan berjalan di Berau, banyak pekerja yang sudah mulai bergantung pada penghasilan dari program tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sri mengungkapkan, masa libur sekolah yang membuat operasional dapur sementara dihentikan telah memberikan dampak terhadap pendapatan para pekerja.
Para pekerja pun merasa khawatir apabila program tersebut sampai dihentikan secara permanen karena akan menimbulkan dampak ekonomi bagi banyak keluarga.
Karena itu, para pekerja SPPG untuk pertama kalinya memberanikan diri turun langsung menyampaikan aspirasi melalui aksi damai agar didengar oleh pemerintah daerah.
“Semoga Bupati bisa menerima aspirasi kami,” harap Sri Astuti.
Ia menambahkan, keberadaan SPPG tidak hanya membantu ibu-ibu yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi anak-anak muda lokal yang belum memiliki pendidikan tinggi.
Sri menegaskan, aksi tersebut murni berasal dari inisiatif para pekerja setelah melihat adanya gerakan serupa dalam mengawal program MBG di tingkat pusat.“Bukan karena apa-apa, tidak ada yang ngajak, hanya dari hati kami. Jadi kami kompak,” pungkas Sri.

