

Tadulakonews.com – FKUB SULTENG – Perjalanan panjang satu abad kehadiran Gereja Bala Keselamatan (BK) Korps 1 Palu (1926–2026) menjadi bukti nyata kokohnya jalinan toleransi di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memperingati momentum bersejarah tersebut, Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag, hadir sebagai narasumber dalam seminar yang membahas topik Relasi Hubungan Antar Umat Beragama di Palu, Sulawesi Tengah yang digelar di Gereja Bala Keselamatan Korps 1 Palu, Rabu 24 Juni 2026.
Dalam pemaparannya, tokoh moderasi beragama tersebut menilai bahwa torehan sejarah 100 tahun ini bukan sekadar perayaan internal denominasi gereja.
Lebih dari itu, momentum ini adalah refleksi atas kedewasaan beragama dan ketahanan budaya masyarakat Kota Palu yang mampu mentransformasikan perbedaan menjadi sebuah harmoni sosiologis yang menyejukkan.
Di hadapan para perwira, opsir (pendeta), dan jemaat Bala Keselamatan, Prof. Zainal membedah lembaran sejarah awal masuknya pelayanan BK di jantung Kota Palu pada 30 Agustus 1926.
Ia mengingatkan kembali bahwa fondasi kerukunan yang kuat di Lembah Palu tidak tumbuh begitu saja, melainkan diletakkan oleh para pemimpin lokal Muslim terdahulu dengan keterbukaan yang luar biasa.
“Ketika perintis awal Bala Keselamatan, Ensign Charles Jensen dan istrinya Nathalie, tiba di Palu pada tahun 1913, mereka disambut dengan tangan terbuka oleh Paduka Raja Parampasi, Raja Palu saat itu yang beragama Islam,” urai Prof. Zainal.
Sikap akomodatif Raja Parampasi yang menghibahkan sebidang tanah menunjukkan bahwa sejak awal, otoritas Muslim memandang kehadiran Bala Keselamatan sebagai persahabatan, bukan kecurigaan.
Keteladanan inilah yang kemudian merembes ke tingkat akar rumput, sehingga jemaat Kristen dapat beradaptasi dan hidup berdampingan secara damai dengan mayoritas umat Islam.
Dewan Pakar PB Alkhairaat ini juga menggarisbawahi kekuatan struktur adat Suku Kaili sebagai perekat sosial.
Budaya lokal memiliki falsafah hidup Nosarara Nosabatutu (Kita Bersaudara, Kita Bersatu) serta konsep Sintuvu (kebersamaan dan gotong royong) yang mampu meluruhkan pembatas teologis.
Menurut Prof. Zainal, realitas sosiologis di Kota Palu sangat unik karena batas agama sering kali luruh oleh ikatan kekerabatan (pombeteviana).
Adalah hal lumrah dalam keluarga besar suku Kaili jika sebagian anggotanya Muslim taat bahkan menjadi jamaah Alkhairaat, sementara sebagian lainnya adalah “prajurit” atau jemaat aktif Bala Keselamatan.
“Saat upacara adat, pernikahan, atau kedukaan digelar, identitas keagamaan bertransformasi menjadi ruang toleransi. Masyarakat Muslim dan Kristiani bergotong-royong bersama, dengan penghormatan penuh seperti penyediaan konsumsi yang halal,” jelasnya.
Faktor krusial lain yang merawat relasi positif ini adalah model pendekatan Bala Keselamatan melalui moto “Heart to God, Hand to Man” (Hati kepada Allah, Tangan kepada Manusia).
Melalui aksi sosial nyata tanpa diskriminasi, seperti keberadaan Rumah Sakit Woodward (RS BK Palu) dan jaringan sekolahnya, BK membuka pelayanan selebar-lebarnya bagi umat Islam. Sebaliknya, umat Islam memandangnya sebagai mitra pembangunan kota, bukan ancaman teologis.
Kedewasaan ini diuji berulang kali, mulai dari rembetan konflik Poso awal tahun 2000-an hingga bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi pada 28 September 2018.
Prof. Zainal mengenang bagaimana RS Woodward menjadi salah satu fasilitas medis terdepan yang merawat ribuan korban cedera yang mayoritas Muslim, sementara posko pemulihan yang digerakkan pemuda Islam dan gereja saling bahu-membahu di lapangan.
Menutup seminarnya, Prof. Zainal Abidin menegaskan bahwa jemaat Bala Keselamatan dan umat Islam di Kota Palu telah melangkah jauh dari sekadar “hidup berdampingan secara damai” (peaceful co-existence) menuju “hidup bersama dalam kerja sama” (co-operative living).
“Menatap abad kedua, warisan harmoni berlandaskan Nosarara Nosabatutu ini menjadi modal sosial yang tak ternilai bagi masa depan Kota Palu yang inklusif, maju, dan damai,” demikian ucap sang guru besar di akhir pemaparannya. ***

